Media Sosial Itu Hanya Topeng Sosial: Bukan Representasi Kehidupan Sebenarnya

Ada orang yang tiap hari update status di Facebook, Instagram, Twitter, dan Google+. Semua updetan status orang tersebut terlihat happy moment. Tidak ada keluhan sama sekali dalam membuat status di medos.

Gambar-gambar dan photo-photo yang diupload juga tampak terlihat cakep. Gambar yang diupload selalu terlihat glowing dan mengundang decak kagum para likers. Bisa jadi semua itu hanyalah topeng sosial yang sengaja dibuat oleh netizen pemilik medsos tersebut untuk membangun kesan yang baik-baik. Kalau di dunia nyata, belum tentu bersesuaian antara yang diupload dengan realita yang dirasakan.

Media Sosial untuk Membangun Topeng Sosial

Anda jangan langsung percaya dengan kesan yang dibangun oleh seseorang di media sosial kalau belum bertemu secara langsung. Ketemu secara langsung adalah upaya untuk mengonfirmasi apa yang ia sampaikan di ruang maya dengan tampilan realitas di ruang nyata.

Dalam teori ruang maya, akan ada temuan perbedaan antara yang maya dengan yang realita. Seseorang yang terlihat galak di media sosial belum tentu terlihat galak di dunia nyata terutama saat didekati secara personal. Berikut karakteristik psikologis pengguna ruang maya yang perlu kita ketahui:

  • Media sosial adalah ruang maya topeng sosial. Artinya ada ketidak sesuaian kesan yang dibangun di dunia maya dengan realita yang dilihat di secara langsung.
  • Media sosial adalah bentuk pembangunan kesan. Artinya ada kesan yang sengaja dibangun oleh pemilik media sosial untuk diekspresikan ke publik.
  • Media sosial adalah anonimitas. Artinya orang-orang kerap menyembunyikan identitas sosialnya ke hadapan publik.
  • Media sosial merupakan media komunikasi terbatas. Apalagi teks tulis pada media sosial tidak bisa mengakomodir ekspresi yang dibentuk.
  • Media sosial mengkooptasi percakapan akademik. Orang yang menggunakan media sosial cenderung menghindari tulisan akademis yang membutuhkan penalaran logika.

Tips Menghindari Pencurian Data Digital di Medsos

Temuan screnshoot di Android adalah petaka, terutama bagi orang-orang yang menyalahgunakan pemakaian screnshoot untuk tindakan doksing. Ketika ada orang yang melakukan doksing dan kebetulan data yang dicuri adalah milikmu, maka ruang privasimu bisa tercabik-cabik.

Doksing bisa terjadi pada relasi relationship. Mantarn pacarmu bisa berpotensi besar untuk melakukan doksing. Chatingan intimu dengan mantan pasangan bisa aja di screnshot dan disebarkan di dunia maya. Tindakan doksing yang semacam ini tentu sangat membahayakan privasimu.

Orang yang secara psikologis sering melakukan doksing biasanya mereka mempunyai kontrol yang rendah akan pentingnya menjaga privasi. Mereka juga biasanya merupakan orang-orang yang secara psikologis menderita narsistik akut. Berikut tips-tips menghindari doksing di dunia maya:

  • Menghindari penyantuman detail alamat secara lengkap.
  • Menghindari penyantuman nomor WA secara lengkap
  • Menghindari detail nama keluarga secara lengkap
  • Menghindari identitas privat yang ada pada media sosial

Agar keamananmu dalam menggunakan media sosial tetap terjaga, pastikanlah menyembunyikan data-data privatmu saja. Jangan terlalu mengumbar data pribadi di media sosial. Mengumbar data pribadi di media sosial akan membuat kemungkinan doksing di media sosial tinggi.

Perlu diingat lagi bahwa prinsip dari media sosial adalah topeng sosial. Akan ada perbedaan yang cukup fundamental antara realita di media sosial dengan realita di dunia nyata. Untuk mengonfirmasi kebenaran itu perlu ada pertemuan terlebih dahulu. Nah itulah artikel media sosial itu hanya topeng sosial: bukan representasi kehidupan sebenarnya yang perlu kalian ketahui.

Theme: Overlay by Kaira